40 Tahun Menunggu Prestasi Gemilang Persatu

0
1859

KoniTuban.com – Perayaanhari ulang tahun tim kebanggaan “Bumi Wali”, Persatu Tuban ke-40 digelar secara sederhana. Selain syukuran, manajemen bersama para pemain juga menggelar bakti sosial dalam bentuk bagi-bagi sembako kepada masyarakat miskin. Tepat hari kelahirannya 17 Oktober, Persatu diharapkan mampu promosi dari Divisi Utama ke Liga Super Indonesia.

Manager Persatu, Fahmi Fikronie, mengaku sangat bersyukur tim sepakbola yang dipimpinnya bisa merayakan ulang tahun dengan menggelar bakti sosial bagi-bagi sembako. Meski jumlahnya hanya sekitar seratus paket, namun, diharapkan bantuan tersebut berguna dan meringankan masyarakat miskin yang menerimanya.

“Alhamdulilah dalam Ultah yang ke-40 tidak hanya sekedar potong tumpeng bersama pemain, managemen dan suporter Ronggomania, namun, Persatu Tuban juga menggelar bakti sosial membagikan sembako kepada warga kurang mampu di Tuban, meski jumlahnya kurang dari seratus warga,” katanya

Selain kegiatan amal, Persatu juga menggelar pertandingan persahabatan melawan Persebaya 1927. Pertandingan di Stadion Lokajaya Tuban tersebut dipersembahkan khusus untuk menghibur Ronggomania, suporter setia Persatu, yang merindukan tontonan pertandingan sepakbola berkualitas.

Sebab, setahun berlalu kompetisi sepakbola di tanah air telah mengalami mati suri. Kompetisi di semua tingkatan, baik Liga Super Indonesia, Divisi Utama, maupun Divisi 1 dan 2 berhenti bergulir. Hal tersebut terjadi menyusul pembekuan Persatuan Sepakbola Seluruh indonesia (PSSI) oleh Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrowi.

Menurut Fahmi Fikronie, pertandingan melawan Persebaya 1927 dimanfaatkan Persatu untuk latih tanding, sekaligus mengukur kemampuan dan kekompakan tim. Meski kompetisi resmi belum jelas kapan akan bergulir lagi, namun Persatu merasa sangat perlu menjaga kebugaran para pemain, agar tidak drop saat dibutuhkan kemudian hari.

“Alhamdulilah undangan Persatu Tuban ke manajemen Persebaya telah disambut dan hadir ke Tuban untuk pertandingan uji coba. Selain kado untuk masyarakat Tuban di hari ulang tahun ke-40 juga untuk mengukur kemampuan pemain Persatu Tuban,” terang politikus muda yantg sekarang duduk di kursi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tuban itu

Namun pada pertandingan persahabatan melawan Persebaya 1927, Persatu Tuban harus menelan kekalahan. Meski mendominasi pertandingan, persatu akhirnya harus mengakuhi ketangguhan tim tamu, dengan skor 0-2.

Lebih lanjut, pria yang akrab disapa Roni itu mengakui hingga kini belum ada kejelasan kapan kompetisi Nasional akan bergulir kembali. Keputusan menggulirkan kompetisi Nasional berada di tangan PSSI dan Menpora, yang hingga kini masih dilanda badai konflik. Tak ada yang bisa dilakukan Persatu selain menunggu.

Selama jeda kompetisi, Persatu berencana mengisinya dengan menggelar laga-laga persahabatan. “Kita akan terus menggelar pertandingan uji coba dengan klub-klub lain,” ungkapnya.

Perlu diketahui, Persatu Tuban baru saja menorehkan tinta emas di kanca sepakbola nasional. Tim berjuluk “Laskar Ronggolawe” itu mendapat satu tiket promosi dari Liga Nusantara ke Divisi Utama Liga Indonesia 2015. Prestasi ini merupakan pencapaian tertinggi Persatu, sejak berdiri pada 17 Oktober 1975 silam.

Bersama Persatu Tuban, terdapat 5 tim dari Liga Nusantara 2014 yang juga naik kasta ke Divisi Utama 2015. Diantaranya Perssu Sumenep, Perserang Serang, PS Bandung (dari grup 11), Laga FC Surabaya, dan Persibas Banyumas (dari grup 12). Keenam tim ini menyusul 2 tim dari Divisi I 2014, yang sudah lebih dulu memastikan diri promosi, yaitu Cilegon United FC (Juara Divisi I 2014) dan Persibat Batang (Runner-up Divisi I 2014).

Kesuksesan Persatu tidak diperoleh secara instan. Persatu yang hanya diperkuat pemain-pemain lokal asli Tuban berjuang mulai dari level terendah, yaitu Divisi III. Namun berkat tekad yang kuat dan semangat dari pihak manajemen serta para pemain, Persatu Tuban yang awalnya hanya berlaga di Divisi III terus mengalami promosi hingga akhirnya kini tembus masuk Divisi Utama 2015.

Namun belum genap semusim, Divisi Utama Indonesia 2015 dan kompetisi-kompetisi sepakbola Nasional lainnya terhenti di tengah jalan. Penghentian kompetisi tersebut menyusul koflik antara antara PSSI dan Menpora, yang berujung pembekuan PSSI. Bahkan konflik tersebut mengakibatkan sepakbola Indonesia mendapat sanksi dari FIFA. (*)